gambar Promosi
SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA
BREAKING NEWS

Katarina Tat: Konsistensu Literasi Antar SMPN 4 Nubatukan Jadi Titik Kunjungan Bunda Literasi NTT

 

LEWOLEBA, Wartapers.com – Konsistensi membangun budaya baca, inovasi pengelolaan perpustakaan, kreativitas peserta didik, serta kolaborasi berkelanjutan dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (DKPD) Kabupaten Lembata mengantarkan SMP Negeri 4 Nubatukan menjadi salah satu titik kunjungan Bunda Literasi Provinsi Nusa Tenggara Timur, Ny. Vera Sirait Asadoma, istri Wakil Gubernur NTT, Jhoni Asadoma, pada Selasa, 10 November 2026.

Kepercayaan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap praktik pengembangan literasi yang selama ini dijalankan sekolah, mulai dari pembiasaan membaca, penguatan fungsi perpustakaan, kegiatan kreatif berbasis literasi, hingga pengembangan potensi peserta didik melalui berbagai kompetisi.

Kepala SMPN 4 Nubatukan, Katarina Oktaviana Tat, kepada media ini, Sabtu, 7 November 2026, mengatakan bahwa sekolahnya mendapat kepercayaan menjadi salah satu satuan pendidikan yang dikunjungi setelah melalui koordinasi dengan tim literasi dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lembata.

Menurut Katarina, penetapan SMPN 4 Nubatukan sebagai titik kunjungan tidak terlepas dari berbagai program literasi yang secara konsisten dilaksanakan dan dikembangkan sekolah selama ini. Program tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan minat baca, tetapi juga mendorong peserta didik mengolah pengetahuan menjadi karya, kreativitas, dan keterampilan berkomunikasi.

"Sebagai kepala sekolah, saya sudah melakukan briefing bersama teman-teman guru pada Jumat pagi untuk mempersiapkan kunjungan ini. Kami ingin memberikan kesan terbaik kepada Bunda Literasi NTT. Sebagai orang Lamaholot, tentu ada nilai-nilai kearifan lokal yang ingin kami hadirkan dalam momentum tersebut," ungkap Katarina.

Katarina menegaskan, substansi yang ingin diperlihatkan melalui kunjungan tersebut adalah berbagai praktik baik pengembangan literasi yang telah tumbuh di lingkungan sekolah, termasuk keterlibatan aktif guru, pengelola perpustakaan, dan peserta didik.

"Kami ingin menunjukkan bahwa anak-anak tidak hanya membaca buku, tetapi juga mampu mengolah pengetahuan menjadi kreativitas, keberanian tampil, kemampuan berbahasa, dan ekspresi seni," jelasnya.

Salah satu kekuatan pengembangan literasi SMPN 4 Nubatukan adalah program literasi mingguan yang dilaksanakan setiap Senin, Rabu, dan Jumat selama 30 menit pada waktu istirahat. Kegiatan ini dirancang secara variatif agar peserta didik tidak merasa membaca sebagai kewajiban semata, melainkan sebagai aktivitas yang menyenangkan dan produktif.

Pengelola Perpustakaan SMPN 4 Nubatukan, Yusi Windari, yang ditemui secara terpisah, menjelaskan bahwa perpustakaan sekolah tersebut telah berdiri sejak Juli 2013, bersamaan dengan berdirinya lembaga pendidikan SMPN 4 Nubatukan.

Menurut Yusi, program literasi mingguan dikemas dalam kegiatan yang berbeda setiap harinya. Senin diisi dengan kuis bedah lirik, Rabu dengan puisi dan koran mini, sedangkan Jumat dengan kuis tebak kata.

"Kegiatan ini dirancang untuk membangun kebiasaan membaca, memperkaya kosakata, serta melatih daya pikir dan kreativitas peserta didik," tuturnya

Selain program literasi mingguan, sekolah juga mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler majalah dinding (mading). Edisi pertama diterbitkan untuk menyambut Bulan Bahasa, sementara edisi kedua dipersiapkan untuk memperingati Hari Guru Nasional dan Hari Pahlawan.

Dalam pengembangan kompetensi literasi, sekolah juga menyelenggarakan sepuluh mata lomba pada kegiatan Bulan Bahasa. Enam di antaranya merupakan lomba utama yang dilaksanakan secara daring dan luring, meliputi menulis cerpen, menggambar atau ilustrasi, vlog resensi buku, monolog, permainan tradisional bakiak, serta kuis aksara bermakna.

Empat kegiatan lainnya dikemas dalam bentuk tantangan kilat literasi, yakni sambung pantun, tebak cerita, permainan tradisional egrang batok, dan menyusun peribahasa.

Program lainnya adalah pemilihan Duta Literasi Sekolah. Penentuan duta tidak semata-mata didasarkan pada kemampuan berbicara atau tampil di depan umum, tetapi melalui rekam jejak aktivitas literasi peserta didik selama satu tahun pelajaran.

Indikator penilaian mencakup keaktifan meminjam buku, membuat ringkasan bacaan, mengikuti kuis literasi mingguan, serta menghasilkan karya tulis seperti cerpen dan karya kreatif lainnya.

Konsistensi pengembangan kreativitas tersebut juga tercermin dalam sejumlah prestasi peserta didik. SMPN 4 Nubatukan pernah meraih Juara II lomba video konten literasi bertema nelayan, tani, dan ternak yang diselenggarakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lembata pada 2024.

Selain itu, peserta didik sekolah tersebut beberapa kali menjuarai lomba video genre remaja yang diselenggarakan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Kabupaten Lembata.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan literasi di SMPN 4 Nubatukan tidak berhenti pada aktivitas membaca dan menulis, tetapi telah berkembang ke ranah literasi digital, komunikasi visual, serta kemampuan peserta didik menyampaikan pesan melalui media kreatif.

Kerja sama SMPN 4 Nubatukan dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lembata juga diwujudkan melalui program peminjaman koleksi buku secara berkala

Setiap tiga bulan, pihak sekolah mengambil sekitar 100 judul buku dari perpustakaan daerah untuk dibawa ke sekolah. Buku-buku tersebut kemudian dipajang di perpustakaan agar dapat diakses dan dipinjam oleh peserta didik.

Setelah membaca, siswa didorong menyusun resensi atau ulasan buku sebagai bagian dari penguatan kemampuan membaca kritis, memahami isi bacaan, dan menuangkan gagasan secara tertulis.

Menurut Katarina, SMPN 4 Nubatukan juga menjadi salah satu sekolah yang dipilih sebagai lokasi uji petik dalam proses penilaian akreditasi perpustakaan. Hal ini berkaitan dengan rekam jejak kerja sama dan pelaksanaan program literasi antara sekolah dan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lembata.

Meski demikian, Yusi mengakui masih terdapat tantangan mendasar dalam pengembangan perpustakaan sekolah, terutama keterbatasan koleksi buku cetak nonpelajaran, khususnya buku fiksi dan bacaan populer yang sesuai dengan minat peserta didik.

"Kami berharap melalui kunjungan Bunda Literasi ini, berbagai kegiatan kecil yang kami lakukan di sekolah bisa semakin dikenal. Lebih dari itu, kami juga berharap ada angin segar dan dukungan bagi peningkatan program-program literasi, khususnya pengembangan perpustakaan sekolah," ungkap Yusi.

Dalam mendukung pengelolaan dan pelayanan literasi, SMPN 4 Nubatukan memiliki organisasi pelayanan perpustakaan dengan susunan Kepala Sekolah Katarina Oktaviana Tat, Pengelola Perpustakaan Yusi Windari, Layanan Teknis Helena Peni, Layanan Perpustakaan Arnoldus Bgamak, serta Layanan Teknologi Informasi Yasinta Solot.

Kunjungan Bunda Literasi Provinsi NTT diharapkan menjadi ruang apresiasi sekaligus penguatan jejaring kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, satuan pendidikan, dan pengelola perpustakaan dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan di Kabupaten Lembata. 



Pewarta : Sabatani

Editor: redaksi 

BERITA NASIONAL
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image