gambar Promosi
SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA
BREAKING NEWS

Kanis Tuaq : Kawasan Konservasi Luat Apartemen dan Hotel Bagi Ikan

LEWOLEBA, Wartapers.com — Bupati Lembata P. Kanis Tuaq mengibaratkan kawasan konservasi laut sebagai apartemen atau hotel bagi ikan, tempat biota laut berlindung, berkembang biak, dan menjaga keberlangsungan populasinya. Karena itu, masyarakat tidak boleh hanya memanen hasil laut, tetapi harus ikut merawat ekosistemnya demi menjamin hak generasi mendatang.

Pesan ekologis tersebut disampaikan Kanis Tuaq saat secara resmi meluncurkan OPPA (Oring Paus Paguyuban Adat) dan OMMA (Oring Muro Masyarakat Adat), sekaligus meluncurkan buku Muru: Penjaga Masyarakat Adat Lewohala, di kawasan wisata Bukit Ili Lolong, Desa Todanara, Kecamatan Ile Ape Timur, Selasa, 3 November 2026.

“Kita tidak boleh hanya mengambil dan memanen ikan dari laut. Kita juga harus merawatnya. Kalau hari ini kita tidak merawat laut, sesungguhnya kita sedang mencuri hak anak cucu kita,” tegasnya.

Kegiatan bertema “Belajar dari Adat, Bertumbuh Bersama Masyarakat, Menjaga Laut untuk Generasi Mendatang” itu dihadiri anggota DPRD Lembata Sebastianus Muri, Vigis Koban, Stefanus Tapobali, Plt. Camat Ile Ape Timur Itong Making, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Anselmus Asan Ola, Staf IDEP Selaras Alam Bernando H., Kepala Desa Todanara Fransiskus Boli, serta para pemangku adat dan tokoh masyarakat dari empat desa.

Bupati mengapresiasi LSM Barakat dan masyarakat adat yang berinisiatif menghidupkan kembali pemanfaatan bangunan pemerintah di Bukit Ili Lolong. Ia berharap OPPA dan OMMA berkembang menjadi pusat edukasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat, pengelolaan sumber daya alam, dan pelestarian kearifan adat.

Ia juga mendorong kolaborasi lintas perangkat daerah untuk mengoptimalkan potensi lokal, termasuk pengembangan jagung pulut melalui penangkaran benih lokal.

Sementara itu, Direktur LSM Barakat Kabupaten Lembata, Benediktus Bedil Pureklolon, menyebut Todanara memiliki potensi ekologis dan pariwisata bahari yang luar biasa. Berdasarkan pengamatan tim peneliti dari Italia, panorama laut di kawasan tersebut bahkan dinilai lebih indah dibandingkan Bunaken.

Menurut Pureklolon, Bukit Ili Lolong telah memiliki bangunan sejak 2016, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal selama hampir satu dekade.

“Bangunan ini sudah dibangun sejak 2016. Artinya, selama sepuluh tahun kita hanya melihat bangunan ini berdiri tanpa roh. Hari ini, melalui inisiatif dan gagasan bersama, kita mulai membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk menjadikan tempat ini sebagai OPPA dan OMMA,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Todanara memiliki kekayaan ekologis berupa panorama laut, ekosistem mangrove, dan tradisi muru, yakni sistem pengelolaan sumber daya laut berdasarkan kearifan masyarakat adat. Melalui pembatasan pemanfaatan wilayah perairan dalam periode tertentu, tradisi ini memberikan kesempatan kepada ekosistem laut untuk melakukan pemulihan secara alami.

“Muru bagi masyarakat adat bukan sekadar menutup wilayah laut untuk sementara waktu. Ini merupakan cara masyarakat memberikan kesempatan kepada alam untuk memulihkan dirinya,” katanya.

Ia menegaskan, konservasi harus menjadi fondasi pengembangan pariwisata bahari. Keberhasilan destinasi tidak cukup diukur dari jumlah wisatawan dan keuntungan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menjaga keseimbangan ekologis.

Peluncuran buku Muru: Penjaga Masyarakat Adat Lewohala diharapkan memperkuat dokumentasi pengetahuan tradisional sekaligus mewariskan kesadaran ekologis kepada generasi muda.

Melalui OPPA dan OMMA, Bukit Ili Lolong diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, pengetahuan lokal, dan pendekatan ilmiah untuk membangun pariwisata bahari yang berkelanjutan.


Pewarta: Sabatani

Editor: redaksi 

BERITA NASIONAL
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image