gambar Promosi
SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA
BREAKING NEWS

Kadis Arpus Lembata: Guru Harus Terus Belajar, Jangan Sampai Murid Lebih Pintar dari Guru

 

LEWOLEBA, Wartapers.com – Guru dituntut terus belajar, memperkuat kompetensi literasi, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis agar mampu membimbing peserta didik menghadapi perubahan zaman. Sebab, guru yang berhenti belajar akan kesulitan menuntun generasi yang terus berkembang.

"Guru yang berhenti belajar akan kesulitan menuntun generasi yang terus berubah. Bapak dan Ibu guru harus terus belajar. Jika tidak, anak-anak bisa lebih pintar daripada gurunya," tegas Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata, Anselmus Asan Ola, saat memberikan materi Penguatan Literasi bagi 31 guru SMP Negeri 4 Nubatukan, Sabtu (7/11/2026).

Mengusung tema "Literasi Guru: Dari Mengajar Menjadi Pendidik, Membangun Budaya Membaca, Berpikir, Berefleksi dan Memanusiakan Manusia melalui Pendidikan", Anselmus mengajak para guru merefleksikan kembali hakikat pendidikan. Menurutnya, keberhasilan seorang guru tidak semata-mata diukur dari banyaknya materi pelajaran yang selesai diajarkan, tetapi juga dari kemampuannya membentuk karakter, nilai, tanggung jawab, dan kepribadian peserta didik.

Ia menjelaskan, mengajar dan mendidik merupakan dua hal yang saling berkaitan, tetapi tidak sama. Mengajar berfokus pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan, sedangkan mendidik berorientasi pada perkembangan manusia secara utuh, mencakup pikiran, hati, tutur kata, dan perilaku.

"Pendidikan bukan hanya membuat anak tahu, tetapi membantu anak bertumbuh," ungkapnya.

Anselmus juga menyoroti pentingnya penguatan literasi dan numerasi berdasarkan evaluasi Rapor Pendidikan. Berdasarkan perkembangan capaian tahun 2024 dan 2025, indikator literasi mengalami peningkatan pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, capaian numerasi justru mengalami penurunan pada 2025 dibandingkan 2024.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan kompetensi peserta didik harus dilakukan secara berkelanjutan. Guru tidak cukup hanya menguasai mata pelajaran yang diampu, tetapi perlu memiliki kemampuan literasi yang luas agar mampu membangun daya nalar, kreativitas, dan kecakapan anak dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Menurut Anselmus, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi baca-tulis mencakup kemampuan memahami, menilai, dan menghasilkan informasi tertulis. Literasi numerasi dan sains berkaitan dengan kemampuan menggunakan angka, data, bukti, serta cara berpikir ilmiah untuk mengambil keputusan secara tepat.

Sementara itu, literasi digital menuntut kemampuan mencari, menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi digital secara bertanggung jawab. Literasi budaya dan kemanusiaan membangun pemahaman tentang identitas, perbedaan, nilai, serta kehidupan bersama dalam masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa peserta didik kini hidup di tengah derasnya arus informasi, media sosial, dan perkembangan teknologi digital. Karena itu, guru harus mampu membimbing anak memeriksa sumber informasi, menguji kebenaran berita, berani bertanya, menyampaikan argumentasi, berdiskusi, dan menghargai perbedaan pendapat.

Dalam pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Anselmus menegaskan teknologi harus ditempatkan sebagai alat bantu berpikir, bukan pengganti pertimbangan dan kebijaksanaan manusia.

Lebih jauh, ia menguraikan bahwa literasi memiliki dimensi kemanusiaan yang sangat penting. Membaca kisah dan pengalaman orang lain dapat memperluas empati, membangun kepekaan sosial, serta mengubah cara seseorang memandang dan memahami sesamanya.

"Anak mungkin lupa apa yang diajarkan, tetapi akan selalu ingat bagaimana gurunya memperlakukan mereka," tegasnya.

Untuk mentransformasi peran guru, Anselmus menawarkan empat dimensi literasi, yakni literasi pikiran, literasi hati, literasi kata, dan literasi perilaku. Keempatnya menjadi fondasi bagi guru untuk mencerdaskan pikiran, membentuk karakter, serta menghadirkan pendidikan yang memanusiakan manusia.

Ia juga mendorong Gerakan Guru Literat melalui pembiasaan membaca dan menulis di kalangan guru, pengembangan literasi kemanusiaan dan karakter, penguatan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, serta pengembangan pendidikan berbasis nilai budaya lokal dan kehidupan masyarakat.

Kegiatan penguatan literasi tersebut diikuti 31 guru SMPN 4 Nubatukan, termasuk kepala sekolah, sebagai tindak lanjut evaluasi mutu pendidikan sekaligus upaya meningkatkan kompetensi tenaga pendidik.

Kepala SMPN 4 Nubatukan, Katarina Oktaviana Tat, SE, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan berdasarkan hasil Rapor Mutu Pendidikan Tahun 2025, khususnya Survei Lingkungan Belajar yang menunjukkan masih terdapat indikator numerasi yang mengalami penurunan atau belum sesuai dengan standar yang diharapkan.

Menurut Katarina, hasil evaluasi melalui Rapat Koordinasi (Rakor) Mutu Pendidikan kemudian ditindaklanjuti oleh satuan pendidikan melalui program pembenahan. Salah satu bentuk pembenahan yang direncanakan adalah peningkatan kompetensi guru dalam bidang literasi.

Ia menyebutkan, kegiatan tersebut juga telah dipersiapkan melalui perencanaan dan penganggaran sekolah sehingga dapat dilaksanakan sebagai bagian dari program peningkatan mutu pendidikan.

Katarina menyampaikan apresiasi atas kehadiran Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata yang memberikan penguatan kepada para guru.

"Kegiatan ini sangat penting. Saya berharap kita semua dapat mengikutinya dengan baik dan memperoleh hal-hal baru yang bermanfaat sebagai bekal dalam proses pembelajaran ketika berhadapan dengan anak-anak di kelas. Literasi bukan hanya tanggung jawab guru Bahasa Indonesia, melainkan tanggung jawab kita semua," ungkap Katarina dalam sambutannya.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan tersebut dapat diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari sehingga penguatan literasi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi budaya belajar di lingkungan SMPN 4 Nubatukan. 


Pewarta :  sabatani

Editor: redaksi 

BERITA NASIONAL
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image