gambar Promosi
SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA
BREAKING NEWS

Di Atas Cadas Lusikawak, Bintang-Bintang Literasi Terus Bersinar

 

LEWOLEBA, Wartapers.com — Memasuki tiga dekade perjalanan, SD Inpres Lusikawak ibarat kerakap di atas batu: hidup segan, mati tak mau. Di tengah keterbatasan akses jalan yang layak, lapangan futsal permanen, dan taman bacaan yang nyaman, sekolah yang berdiri di atas cadas dengan panorama laut Pulau Siput ini terus melahirkan bintang-bintang literasi. Salah satunya adalah siswa atas nama Mater Dolorosa, siswa yang berhasil meraih Juara I Lomba Bertutur tingkat sekolah dasar se-Kabupaten Lembata.

Di tengah kondisi itu, Bunda Literasi Kabupaten Lembata, Ny. Ursula Surat Bayo Tuaq, mengajak anak-anak menjadikan buku sebagai sahabat  memperluas wawasan, membangun daya pikir kritis, dan merancang masa depan. 

Pesan tersebut disampaikannya dalam perayaan Tetralogi Harmoni sekaligus HUT ke-30 SD Inpres Lusikawak, Kamis (29/10/2026).

Ursula menegaskan bahwa literasi merupakan fondasi penting pengembangan sumber daya manusia. Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mencakup kecakapan memahami informasi, menganalisis persoalan, berkomunikasi secara efektif, serta mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan.

Menurutnya, budaya membaca perlu ditanamkan sejak dini melalui kolaborasi keluarga, sekolah, gereja, perpustakaan, dan masyarakat. Orang tua dapat membiasakan anak membaca cerita, berdiskusi, menyampaikan pendapat, serta menuangkan gagasan melalui tulisan dan karya kreatif.

Di lingkungan sekolah, Ursula mendorong penguatan literasi berbasis kelas melalui kegiatan membaca 10–15 menit sebelum pelajaran, penyediaan pojok baca, pemajangan karya siswa, serta pembiasaan menceritakan kembali isi bacaan. Baginya, literasi harus menjadi praktik pendidikan yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Pesan tersebut relevan dengan perjalanan SD Inpres Lusikawak. Di sekolah yang berdiri di atas cadas dengan panorama laut Pulau Siput, keterbatasan fasilitas tidak menghalangi anak-anak mengembangkan kemampuan membaca, menulis, berkesenian, dan berkreasi. Akan tetapi, potensi tersebut membutuhkan dukungan lingkungan belajar yang memadai agar dapat berkembang secara optimal.

Akses jalan yang layak diperlukan untuk menunjang mobilitas warga sekolah, sedangkan lapangan futsal permanen dapat memperluas ruang aktivitas fisik dan pengembangan bakat olahraga.

Kehadiran taman bacaan yang nyaman juga penting untuk memperkuat budaya literasi sekaligus menyediakan ruang belajar alternatif bagi peserta didik. Ketiga kebutuhan itu merupakan bagian dari infrastruktur pendukung yang berkontribusi terhadap kualitas proses pembelajaran.

Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata, Petrus Lewan, yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan, menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada prestasi akademis, tetapi juga pada pembentukan karakter. 

"Anak-anak perlu tumbuh menjadi pribadi yang beriman, jujur, kreatif, peduli, dan menghargai sesama," tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa Bulan Kitab Suci Nasional memperkuat nilai-nilai iman, Bulan Bahasa menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa Indonesia dan budaya daerah, sedangkan Hari Sumpah Pemuda menanamkan semangat persatuan. Adapun HUT ke-30 SD Inpres Lusikawak menjadi momentum refleksi untuk memperkuat komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan.

Lewan mengajak guru, orang tua, dan masyarakat membangun kemitraan pendidikan agar potensi setiap anak dapat dikenali, didampingi, dan dikembangkan secara optimal. Kolaborasi tersebut, menurut arah pesannya, menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membentuk karakter dan keterampilan sosial peserta didik.

Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata, Frans Sabaleku, yang hadir mewakili kepala dinas, turut mengapresiasi integrasi literasi, seni, budaya, dan nilai keagamaan dalam kegiatan tersebut. Ia mendorong sekolah menghadirkan aktivitas kreatif dan menyediakan bahan bacaan yang beragam untuk menumbuhkan minat baca sekaligus membantu siswa mengenali bakat dan minatnya.

Sementara itu, Kepala SD Inpres Lusikawak, Anselmus Pepak, berharap pemerintah, donatur, dan masyarakat memberikan perhatian terhadap kebutuhan mendasar sekolah, terutama akses jalan, lapangan futsal permanen, dan taman bacaan. Ia menginginkan anak-anak Lusikawak memperoleh fasilitas pendidikan yang layak tanpa harus meninggalkan wilayahnya demi mendapatkan kesempatan belajar yang lebih baik.

Ketua panitia, Evarista Avila, menjelaskan bahwa Tetralogi Harmoni Lusikawak menjadi wadah pengembangan bakat, kreativitas, dan karakter siswa. Kegiatan ini mengusung tema “Suara Anak Lusikawak dalam Terang Sabda Tuhan: Cerdas, Kreatif, dan Berkarakter”, dengan merangkai Bulan Kitab Suci Nasional, Bulan Bahasa, Hari Sumpah Pemuda, dan HUT ke-30 sekolah.

"Rangkaian kegiatan itu antara lain meliputi pentas seni dan budaya, pembacaan puisi, tarian daerah, paduan suara, lomba membaca Kitab Suci, dekorasi kelas, penataan taman, menggambar sketsa, menulis puisi, dan bertutur," tutur Avila.

Menurut Avila, ragam kegiatan tersebut memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kompetensi berbahasa, keberanian berekspresi, kreativitas, serta apresiasi terhadap budaya dan nilai-nilai keagamaan.

Kegiatan tersebut dihadiri Bunda Literasi Kabupaten Lembata, Ursula Surat Bayo Tuaq, yang juga merupakan istri Bupati Lembata; Petrus Lewan dari Dinas Pendidikan; Frans Sabaleku dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan; Lurah Lewoleba Yohanes Pati Atarodang; Pengawas Sekolah Dasar Yohanes Gati, S.Pd.; serta tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, orang tua murid, para donatur, dan keluarga besar SD Inpres Lusikawak.

Tiga dekade perjalanan SD Inpres Lusikawak memperlihatkan bahwa kualitas pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh kelengkapan fasilitas, tetapi juga oleh dedikasi pendidik, dukungan keluarga, dan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan potensinya.

Meski demikian, semangat dan prestasi siswa tidak seharusnya menjadi alasan untuk menunda pemenuhan infrastruktur pendidikan. Justru, capaian tersebut dapat menjadi dasar bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk memperkuat dukungan terhadap sekolah.

Di atas cadas Lusikawak, dengan laut Pulau Siput terbentang di hadapan mata, anak-anak terus merawat harapan melalui pengetahuan dan kreativitas. Mater Dolorosa dan bintang-bintang literasi lainnya menunjukkan bahwa potensi masa depan tumbuh juga dari sekolah-sekolah yang berada jauh dari kemewahan fasilitas. 


Pewarta : Sabatani

Editor; redaksi 

BERITA NASIONAL
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image