Tagline yang Bikin Salfok , Stok Beras Bulog Ambil Gabah dari Luar Pulau dari Pada Warga Lokal
SAMPANG, wartapers.com – Organisasi Media Center Sampang (MCS) menggelar audiensi krusial bersama jajaran Badan Urusan Logistik (Bulog) di Kantor Gudang Bulog, Jalan Banyuanyar, Kabupaten Sampang, Madura,Senin 06/07/2026.
Pertemuan ini diadakan guna mendesak transparansi dan komitmen Bulog terkait minimnya penyerapan gabah hasil petani lokal yang hingga kini terus menjadi perhatian publik.
Forum organisasi MCS yang terdiri dari gabungan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan insan pers ini, hadir untuk memastikan mekanisme penyaluran bantuan pangan beras di lapangan berjalan tepat sasaran.
Mereka menuntut validasi data yang akurat guna mengantisipasi munculnya anomali data fiktif yang kerap merugikan masyarakat penerima manfaat.
Preventif pengawasan ini dilakukan MCS secara konsisten demi menjaga marwah institusi publik dan memastikan pihak Bulog berkomitmen penuh dalam pendistribusian beras. Kontrol sosial ini dinilai penting agar tidak ada celah kecurangan yang dapat meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap program jaminan pangan pemerintah.
Selain masalah data, MCS juga menyoroti aspek kualitas dan kuantitas beras bantuan pangan. Mereka menegaskan bahwa komoditas yang disalurkan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) harus memenuhi standar kelayakan konsumsi yang tinggi, bukan beras bermutu rendah.
Kritik tajam turut diarahkan pada minimnya penyerapan gabah petani lokal oleh Bulog akibat rendahnya harga beli yang dipatok sebesar Rp 6.500 per kilogram. Kebijakan harga yang dinilai berada di bawah standar pasar ini dianggap belum menjadi solusi berpihak, bahkan cenderung mendegradasi perekonomian para petani di Sampang.
Meski pihak Bulog mengklaim telah melakukan sosialisasi langsung ke tingkat petani dan membuka ruang distribusi, upaya tersebut dinilai mandek. Petani lokal enggan melepas hasil panen mereka karena tawaran harga yang disesuaikan dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) pemerintah tersebut dianggap tidak mampu menutup biaya produksi.
Menanggapi hal itu, Asisten Manajer Penjualan Pasar Bulog Pemerintah Pamekasan, Adi Purwono Fitriadi Rahman, mengakui adanya keengganan petani lokal untuk menjual gabah ke Bulog. Ia berkilah bahwa keterbatasan stok lokal memaksa pihaknya memasok persediaan gudang dari luar Pulau Madura demi menjaga stabilitas stok pangan daerah.
"Jika memang ada petani yang bersedia menjual hasil gabah mereka dengan ketentuan harga dari kami sebesar Rp 6.500 per kilogram, kami tentu siap menyerapnya. Alasan kami mengambil gabah dari luar Madura karena pasokan dari petani lokal di Sampang saat ini masih sangat terbatas," ujar Adi saat diwawancarai di ruang pertemuan Kantor Bulog Sampang, Senin, 06/07/2026.
Mengenai potensi maladministrasi, Adi menegaskan komitmen Bulog untuk menindak tegas setiap pelanggaran dan meminta masyarakat segera melapor jika menemukan kejanggalan.
Pihaknya berjanji akan melakukan inspeksi mendadak (sidak) serta langsung mengganti komoditas jika ditemukan kualitas beras bantuan yang tidak layak.
Sementara itu, Kepala Gudang Bulog Sampang, Triyono Hadi Saputra, memaparkan bahwa kapasitas tampung gudang di Sampang saat ini hanya mencapai 1.000 ton dengan ketergantungan pasokan dari Bulog Cabang Pamekasan.
Menutup audiensi, Ketua MCS, Fathor Rahman, mendesak Bulog tidak sekadar mengumbar slogan, " Pasti Tepat , Kualitas dan Kuantitas " melainkan benar-benar membuktikan tiga tugas pokoknya, menjamin ketersediaan pangan, keterjangkauan, dan stabilitas harga yang berkeadilan bagi petani maupun konsumen.
Tagline tersebut bikin salah fokus ( salfok), slogan itu menjukan komitmen, integritas dan akuntabilitas terhadap pelayanan bulog dalam penyaluran bantuan pangan lebihnya di Kabupaten Sampang, dan slogan itu jangan hanya sebatas tulisan sepintas dibaca oleh masyarakat, memberikan rasa tanggung jawab demi memulihkan kepercayaan yang pantas bagi masyarakat lebih di prioritaskan.
Redaksi
