Rupiah Tertekan, APBN Terancam Akibat Perang AS-Israel Vs Iran.
Jakarta || Wartapers.com – Konflik geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai memberikan dampak serius terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan tajam terhadap dolar Amerika Serikat, sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 terancam terbebani akibat lonjakan harga minyak dunia dan meningkatnya biaya subsidi energi. Kamis (14/05/2026).
Berdasarkan perkembangan pasar keuangan terbaru, rupiah sempat menyentuh level terlemah hingga mendekati Rp17.500 per dolar AS. Pelemahan tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran investor global terhadap perang berkepanjangan di Timur Tengah yang mengganggu stabilitas perdagangan dunia dan pasokan energi internasional.
Ketegangan perang antara AS-Israel melawan Iran menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Indonesia sebagai negara pengimpor minyak ikut terkena dampak langsung karena biaya impor energi meningkat drastis. Kondisi ini membuat pemerintah harus bekerja ekstra menjaga kestabilan APBN agar subsidi BBM dan energi tidak membengkak. Menteri ESDM bahkan mengungkapkan bahwa asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam APBN berada di kisaran 70 dolar AS per barel, sementara harga minyak dunia kini telah naik hingga 78–80 dolar AS per barel.
Tidak hanya sektor energi, perang di Timur Tengah juga memicu arus keluar modal asing dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor global cenderung memindahkan aset mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan obligasi Amerika Serikat. Akibatnya, rupiah semakin tertekan dan Bank Indonesia harus melakukan intervensi besar-besaran di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas mata uang nasional.
Para ekonom memperingatkan bahwa apabila konflik terus meluas, dampaknya dapat merembet ke berbagai sektor strategis nasional. Harga BBM berpotensi naik, inflasi meningkat, biaya logistik melonjak, hingga harga kebutuhan pokok masyarakat ikut terdorong naik. Bahkan, ketahanan fiskal Indonesia dikhawatirkan melemah apabila pemerintah dipaksa menambah subsidi energi dan utang negara demi menjaga daya beli masyarakat.
Selain itu, ancaman gangguan jalur perdagangan internasional di Selat Hormuz menjadi perhatian dunia. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak global. Apabila konflik menyebabkan distribusi minyak terganggu, maka harga energi dunia diperkirakan akan kembali melonjak dan memperburuk tekanan terhadap ekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pengamat ekonomi menilai pemerintah Indonesia harus segera mengambil langkah antisipatif untuk memperkuat cadangan devisa, menjaga stabilitas pasar keuangan, serta mengendalikan defisit APBN agar tidak melebar. Di sisi lain, masyarakat diminta mulai waspada terhadap potensi kenaikan harga kebutuhan sehari-hari akibat gejolak ekonomi global yang dipicu perang berkepanjangan tersebut.
Perang AS-Israel versus Iran kini bukan hanya menjadi konflik geopolitik kawasan Timur Tengah, tetapi telah berubah menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi dunia. Indonesia, meski tidak terlibat langsung dalam konflik, tetap merasakan efek domino yang menghantam nilai tukar rupiah, pasar keuangan, hingga ketahanan fiskal negara.
Penulis: MK
Editor: redaksi
