May Day Unik di Lembata: Buruh Pelabuhan Lewoleba Ganti Demo dengan Misa Syukur, Usung Filosofi 'Taan Tou'

 

LEWOLEBAWartapers.com - Tidak ada asap ban membubung tinggi, tidak pula teriakan orasi yang memecah keheningan jalanan. Di Pelataran Eks Harnus, Lewoleba, peringatan Hari Buruh Sedunia (May Day) pada Jumat, 1 Mei 2026, berlangsung dengan nuansa yang sangat berbeda dari kota-kota besar di Indonesia. Alih-alih turun ke jalan untuk berdemonstrasi, ratusan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Pelabuhan Lewoleba yang tergabung dalam Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) memilih jalan damai: berkumpul dalam Misa Syukur.

Dipimpin oleh Romo Kristian Uran, Pastor Paroki Santo Yoseph Waikilok, ibadah tersebut menjadi momen refleksi dan rasa syukur para buruh atas kekuatan yang diberikan Tuhan dalam menjalankan aktivitas ekonomi di garda terdepan distribusi logistik daerah kepulauan ini. Suasana pelabuhan yang biasanya riuh oleh deru mesin dan aktivitas bongkar-muat, sejenak berubah khidmat dipenuhi doa.

Ketua TKBM Pelabuhan Lewoleba, Hendrikus Buran, menjelaskan bahwa keputusan untuk tidak berdemonstrasi adalah manifestasi nyata dari budaya lokal mereka.

 "May Day di tempat lain mungkin diwarnai demonstrasi, tapi kami di Lembata memilih menyampaikannya dengan sopan santun," ujar Hendrikus tegas.

Menurutnya, para buruh di Lembata berpegang teguh pada filosofi Kelamaholotan, nilai luhur yang menjunjung tinggi etika, rasa hormat, dan kebersamaan. Nilai ini tidak hanya diterapkan saat memikul beban berat di dermaga, tetapi juga meresap dalam kehidupan sosial keagamaan, termasuk gotong royong membangun rumah ibadah.

Pemerintah Kabupaten Lembata menyambut baik pendekatan humanis ini. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Quintus Irenius Suciadi, yang hadir mewakili Bupati Lembata, mengakui bahwa masih banyak 'pekerjaan rumah' yang harus diselesaikan untuk menyejahterakan para pekerja.

"Kami mengapresiasi dedikasi mereka yang menjadi garda terdepan distribusi logistik. Pemerintah menyadari masih banyak kebutuhan yang belum sepenuhnya terpenuhi," kata Quintus. Ia berkomitmen membuka ruang dialog yang lebih terbuka agar kebijakan daerah tidak lagi berjalan searah, melainkan melibatkan aspirasi pekerja secara langsung.

Semangat perayaan kali ini dibalut dalam tema 'Taan Tou', yang dalam bahasa lokal berarti bersatu atau berjalan bersama. Bagi para buruh di pintu gerbang Lembata ini, Taan Tou bukan sekadar slogan, melainkan strategi bertahan hidup di tengah ketidakpastian ekonomi.

Meski memilih jalur tenang tanpa konfrontasi, harapan para buruh tetap tajam. Mereka mendambakan kebijakan yang adil dan akses dialog rutin dengan pemangku kepentingan. Bagi mereka, perjuangan tidak selalu harus berwujud teriakan di jalanan; kadang, kekuatan terbesar justru lahir dari soliditas yang dirawat dalam kesederhanaan, iman, dan kemanusiaan.


Pewarta: Floni Making

Editor: redaksi 

KABAR NASIONAL
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Memuat BERITA UPDATE TERKINI…

𝐖𝐀𝐑𝐓𝐀 𝐋𝐈𝐏𝐔𝐓𝐀𝐍 𝐏𝐎𝐏𝐔𝐋𝐄𝐑

Memuat...