Insiden Tegang di Sampang, Jurnalis Alami Kekerasan Tanpa Alasan Jelas
Peristiwa itu terjadi pada Senin (13/4) sekitar pukul 13.00 WIB di wilayah Desa Tanggumong, Kecamatan Sampang. Lima orang wartawan datang dengan maksud silaturahmi ke lokasi yang disebut sebagai MBG Tanggumong 004 Yayasan Haqqul Yakin. Namun, alih-alih disambut baik, situasi justru berubah tegang dalam hitungan menit.
Korban bernama Saladin, wartawan dari media dtikinformasi.com, menjadi sasaran utama dalam insiden tersebut. Ia mengaku awalnya diminta duduk, seolah akan diajak berbicara baik-baik. Namun suasana mendadak berubah drastis tanpa aba-aba.
Seorang oknum kiyai berinisial (D) tiba-tiba mendekat dan langsung melakukan tindakan agresif. Tanpa dialog, ia menarik-narik baju korban dengan kasar hingga sobek. Tidak berhenti di situ, korban juga dibentak dan dipaksa keluar dari lokasi dengan nada intimidatif.
“Tidak ada alasan yang jelas. Tiba-tiba saya diperlakukan seperti itu,” ujar Saladin saat dikonfirmasi, dengan nada kecewa dan trauma. Ia menegaskan bahwa kedatangannya murni untuk menjalin komunikasi, bukan untuk memicu konflik.
Menurutnya, insiden tersebut sangat disayangkan karena terjadi tanpa adanya pemicu yang logis. Niat baik yang dibawa justru dibalas dengan tindakan yang mencederai martabat seorang jurnalis di lapangan.
Saksi mata sekaligus rekan sesama wartawan, Safiuddin, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut korban tidak hanya ditarik bajunya, tetapi juga didorong secara kasar hingga hampir terjatuh.
“Benar, saya lihat langsung. Bajunya ditarik, didorong. Itu jelas tindakan kekerasan,” tegasnya, menggambarkan situasi yang sempat memanas di lokasi kejadian.
Kasus ini langsung mendapat perhatian dari organisasi wartawan setempat. Wakil Ketua KJJT Sampang, Hariansyah, menyatakan pihaknya tidak akan tinggal diam atas insiden yang dinilai sebagai bentuk intimidasi terhadap profesi jurnalis.
Ia menegaskan bahwa pihaknya akan mengawal kasus ini hingga tuntas dan segera melaporkannya kepada aparat penegak hukum. Menurutnya, tindakan kekerasan terhadap wartawan tidak bisa ditoleransi dalam bentuk apa pun.
“Wartawan adalah mitra, bukan musuh. Tidak boleh ada kekerasan terhadap jurnalis yang menjalankan tugasnya,” ujar Hariansyah dengan nada tegas.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kejadian seperti ini berpotensi menjadi preseden buruk bagi kebebasan pers di daerah. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin intimidasi terhadap wartawan akan semakin menjadi-jadi.
Peristiwa ini kini menjadi sorotan publik dan menambah daftar panjang kasus kekerasan terhadap jurnalis. Masyarakat pun menunggu langkah tegas aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas dugaan arogansi yang mencoreng nilai demokrasi dan kebebasan informasi di Sampang.
Penulis : Tim
Editor : Redaksi
