Tidak dilibatkan Pekerja Lokal Proyek Poltera, Warga Curiga Ada Yang Mengintervensi

SAMPANG,  wartapers.com – Pelaksanaan proyek konstruksi Gedung Jurusan Kesehatan di Politeknik Negeri Madura (Poltera) yang berlokasi di Jalan Raya Taddan, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, kembali menuai kritik tajam. Proyek strategis ini disorot lantaran diduga kuat mengabaikan keterlibatan warga lokal dalam proses pengerjaannya. Jumat,13/03/2026.

Isu ini mencuat ke permukaan setelah sejumlah masyarakat setempat melayangkan aduan terkait minimnya akses pekerjaan bagi warga sekitar. Mereka merasa diasingkan di tanah sendiri, mengingat posisi tenaga kerja kasar justru didominasi oleh pekerja dari luar daerah tanpa adanya koordinasi yang transparan antara pihak kampus maupun kontraktor pelaksana.

Kondisi tersebut memicu spekulasi negatif di tengah masyarakat. Muncul dugaan adanya intervensi dari pihak luar yang sengaja mengambil alih peluang kerja yang seharusnya menjadi hak warga asli Taddan. Hal ini dinilai mencederai semangat pemberdayaan ekonomi lokal yang menjadi kewajiban setiap investor atau pengembang di daerah.

Padahal, kewajiban memprioritaskan tenaga kerja lokal telah diatur secara tegas dalam regulasi negara. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan, pengusaha wajib menyusun rencana rekrutmen yang mendahulukan masyarakat setempat demi memastikan pemerataan kesempatan kerja dan kesejahteraan warga di sekitar lokasi proyek.

Seorang warga setempat yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyebutkan bahwa posisi buruh kasar hingga pengelolaan kantin di area proyek justru dikuasai oleh orang luar, bukan oleh warga sekitar yang secara ekonomi sangat membutuhkan pekerjaan tersebut.

"Hampir tidak ada tenaga kasar dari warga sini. Bahkan urusan kantin proyek pun diisi oleh orang luar (Beranta dan Mutiara). Padahal kalau warga lokal dilibatkan, setidaknya ekonomi masyarakat kecil di sini bisa sedikit terbantu," ujar narasumber tersebut saat memberikan keterangan kepada media, Sabtu, 07/03/2026.

Tak hanya soal tenaga proyek, aroma intervensi juga tercium hingga ke ranah pengamanan kampus. Sumber yang sama membeberkan adanya dugaan keterlibatan oknum aparat dalam menentukan rekrutmen Satuan Pengamanan (Satpam), yang membuat peluang bagi warga Taddan semakin tertutup rapat.

"Untuk Satpam saja infonya ada titipan dari oknum dinas di Polres. Pekerja asli Taddan sama sekali tidak ada, bahkan posisi mandor pun didatangkan dari luar daerah. Kami merasa hanya menjadi penonton di wilayah sendiri," tambahnya dengan nada kecewa dengan potret tersebut. 

Menanggapi gejolak tersebut, Humas Proyek Poltera, Mirza, memberikan klarifikasi saat diwawancarai oleh media dan tim . Namun, jawaban yang diberikan terkesan diplomatis dan dinilai banyak pihak sebagai upaya untuk mengalihkan persoalan inti terkait pengabaian warga lokal.

Mirza berdalih bahwa dirinya tidak mengetahui secara detail mengenai komposisi pekerja di lapangan. Ia mengklaim masih ada unsur warga lokal yang terlibat, meski ia sendiri mengakui berasal dari Pamekasan dan tidak mengenal secara pasti siapa saja tenaga kerja yang dimaksud.

"Sejujurnya kalau warga lokal itu ada, seperti saya sendiri dari Pamekasan. Terkait mandor atau security, ada sekitar 3 atau 4 orang, tapi saya tidak kenal mereka. Mengenai intervensi pihak luar, setahu saya itu tidak ada," kilah Mirza saat dikonfirmasi mengenai minimnya transparansi rekrutmen. Kamis, 12/03/2026 saat  media ini  turun kelokasi sekitar kampus. 

Menutup keterangannya, Mirza berjanji akan melakukan koordinasi ulang dengan pihak mandor pelaksana guna menindaklanjuti keluhan warga terkait serapan tenaga kerja pada proyek dengan pagu anggaran fantastis tersebut. Ia juga enggan berkomentar mengenai isu miring terkait tunggakan upah lembur pekerja dengan alasan di luar kewenangannya.

 " Waduh kalau itu saya tidak tau pak ," tambahnya dalam keterangan humas proyek dengan pagu anggaran miliyar tersebut. 

Sementara warga lain mengatakan pekerjaan proyek gedung kampus ini tidak seperti waktu awal mula pertama kali dibangun, ia menjelaskan keterlibatan warga lokal memiliki peluang besar dibanding saat ini yang mayoritas mengutamakan warga di luar lokasi bangunan. 

" Dulu pas pertama Poltera dibangun, banyak warga lokal asli sini yang ikut bekerja, semuanya butuh koordinasi dengan pihak setempat, jangan asal caplok diwilayah orang, " timpal warga lain, seraya situasi tersebut tak pantas menurutnya. Jumat, 13/03/2026.


Redaksi

KABAR NASIONAL
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Memuat BERITA UPDATE TERKINI…

𝐖𝐀𝐑𝐓𝐀 𝐋𝐈𝐏𝐔𝐓𝐀𝐍 𝐏𝐎𝐏𝐔𝐋𝐄𝐑

Memuat...