Target 1.000 Ton Jagung Hibrida di Lembata, Proyek Agribisnis Skala Besar Mulai Menunjukkan Hasil
LEWOLEBA, Wartapers.com — Pengembangan jagung hibrida skala relatif besar mulai menunjukkan perkembangan di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Perusahaan agribisnis PT Silvano Maynard Jaya (SMJ) menargetkan panen perdana sekitar 1.000 ton jagung hibrida pada Mei 2026 dari lahan seluas kurang lebih 276 hektar yang tersebar di sejumlah lokasi, dengan pusat kegiatan di Desa Petuntawa, Kecamatan Ile Ape.
Panen raya tersebut direncanakan berlangsung pada Mei 2026 dan disebut akan melibatkan sekitar 1.000 petani lokal sebagai bagian dari skema kemitraan yang mulai dibangun perusahaan sejak akhir 2025.
Direktur PT Silvano Maynard Jaya, Silverter Sudin, mengatakan perusahaan mulai beroperasi di Kabupaten Lembata sejak November 2025 dengan fokus pengembangan jagung hibrida berbasis teknologi pertanian modern.
Dalam pertemuan dengan Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq di Kantor Bupati Lembata pada Selasa (10/3/2026), Silverter menyebut tingkat keberhasilan tanaman diperkirakan mencapai 80 hingga 99 persen, bergantung pada kondisi lahan serta kedisiplinan petani dalam mengikuti standar budidaya.
“Keberhasilan ini tidak hanya soal teknologi, tetapi juga karena petani mengikuti standar budidaya yang kami terapkan,” ujar Silverter.
Untuk mendukung kualitas produksi, perusahaan juga menggandeng Syngenta Indonesia dalam penyediaan benih unggul, sistem budidaya, serta pengelolaan produksi yang lebih modern.
Di sisi lain, proyek pertanian berbasis korporasi di wilayah kering seperti Lembata juga memunculkan sejumlah pertanyaan mengenai keberlanjutan model usaha di wilayah yang sangat bergantung pada curah hujan.
Beberapa pengamat pertanian di Nusa Tenggara Timur menilai keberhasilan proyek semacam ini akan sangat ditentukan oleh ketersediaan air, akses pembiayaan bagi petani, serta kepastian pasar hasil panen. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, proyek agribisnis berskala besar di wilayah kering kerap menghadapi risiko tinggi setelah fase awal investasi.
Bupati P. Kanisius Tuaq sendiri mengakui bahwa sektor pertanian di daerah tersebut sejak lama menghadapi kendala struktural, terutama keterbatasan air dan minimnya sistem irigasi.
“Bertani di lahan kering tanpa irigasi ibarat berjudi karena sangat bergantung pada alam,” kata Kanis Tuaq.
Ia merujuk pada pengalaman beberapa tahun terakhir, terutama pada 2018, 2019, dan 2021, ketika curah hujan yang tidak normal menyebabkan banyak lahan pertanian gagal mencapai produktivitas optimal.
Kondisi tersebut membuat pengembangan jagung di Lembata selama ini sulit berkembang meski potensinya cukup besar. Luas tanam relatif stagnan, sementara lahan tidur yang sebenarnya tersedia belum mampu diolah secara maksimal.
Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan alat berat untuk membuka lahan serta minimnya penggunaan peralatan pertanian modern di tingkat petani.
Dalam konteks itu, masuknya PT Silvano Maynard Jaya dipandang pemerintah daerah sebagai peluang untuk mendorong perubahan pola produksi pertanian.
Perusahaan mengklaim mengusung pendekatan “kuat di akar”, yakni membangun basis usaha dari desa dengan melibatkan petani sebagai mitra utama.
Selain produksi, perusahaan juga menargetkan pembentukan wirausaha baru di sektor pertanian. Dari target empat calon pengusaha lokal yang diproyeksikan menjadi mitra bisnis, tiga orang disebut telah dipersiapkan untuk terlibat dalam pengembangan jagung hibrida di Lembata.
Pemerintah Kabupaten Lembata kini juga membuka kemungkinan kerja sama jangka panjang dengan PT Silvano Maynard Jaya melalui skema perjanjian formal antara pemerintah daerah dan perusahaan.
Melalui kemitraan tersebut, pemerintah berharap dapat meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) sekaligus menghidupkan kembali lahan-lahan yang selama ini terbengkalai.
Jika panen Mei mendatang benar-benar mencapai target 1.000 ton, proyek ini berpotensi menjadi salah satu eksperimen agribisnis terbesar di Lembata dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menjadi ujian apakah model kemitraan perusahaan dan petani mampu bertahan di tengah tantangan ekologi lahan kering di wilayah kepulauan tersebut.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Asisten III Bidang Administrasi Umum Yohanes Berchmans Daniel Dai, Direktur bersama tim manajemen PT SMJ, serta Operational Representative (Orep) Wilayah Lembata Stanislaus Kebesa Langoday.
Pewarta: Floni Making.
Editor; redaksi
