Kesenjangan Infrastruktur Mengancam Ketahanan Pangan Waikomo, Apa Kata Bupati?
LEWOLEBA, Wartapers.com – Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq menanggapi langsung berbagai keluhan petani Waikomo terkait buruknya infrastruktur menuju kawasan persawahan Urumitem yang dinilai berpotensi menghambat produktivitas pertanian sekaligus mengancam ketahanan pangan lokal.
Hal tersebut terungkap dalam dialog terbuka saat pengukuhan pengurus Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Aubala, Senin (3/3/2026).
Dalam forum tersebut, sebanyak 145 petani melalui perwakilan mereka, Yosep Meran Lagaor, menyampaikan empat permintaan utama kepada pemerintah daerah.
Permintaan pertama yang paling mendesak adalah perbaikan akses jalan menuju persawahan dan bendungan Urumitem.
Para petani mengeluhkan kondisi jalan yang berlumpur, sempit, dan rusak parah sehingga menyulitkan aktivitas pertanian, terutama saat mengangkut pupuk maupun hasil panen. Kondisi tersebut juga dinilai membahayakan keselamatan petani yang setiap hari harus melintasi jalur tersebut.
“Sudah air tergenang di jalan, jalan juga semakin kecil,” ungkap Yosep Meran Lagaor saat menyampaikan aspirasi para petani.
Situasi ini semakin diperparah karena sebagian petani mulai memperluas petak sawah hingga mendekati badan jalan sehingga mempersempit akses yang ada.
Permintaan kedua berkaitan dengan kebutuhan listrik di area persawahan. Para petani berharap adanya penerangan agar mereka dapat menjaga tanaman padi dari serangan hama pada malam hari sekaligus memanfaatkan teknologi pertanian yang lebih modern.
Selain itu, para petani juga mengusulkan ekspansi lahan persawahan baru yang dinilai masih memungkinkan untuk dibuka dengan dukungan alat berat dari pemerintah.
Permintaan keempat adalah pembangunan rumah edukasi P3A yang dapat difungsikan sebagai tempat penyimpanan pupuk dan obat-obatan pertanian, sekaligus ruang koordinasi bagi para petani. Ketiadaan fasilitas ini selama ini membuat perlengkapan pertanian rawan rusak karena tidak tersimpan dengan baik.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Bupati Kanisius Tuaq menyatakan pemerintah daerah akan tetap berupaya menindaklanjuti kebutuhan para petani, meskipun harus disesuaikan dengan kemampuan fiskal daerah yang saat ini terbatas.
Sementara itu, Ketua Fraksi Golkar DPRD Lembata, Petrus Gero, mengungkapkan bahwa kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Lembata mengalami pengurangan cukup signifikan akibat kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat.
Menurutnya, anggaran daerah berkurang sekitar Rp148 miliar dibandingkan kondisi normal tahun 2024, sehingga ruang pemerintah daerah untuk membiayai berbagai kebutuhan pembangunan menjadi semakin terbatas.
Meski demikian, masih terdapat peluang melalui alokasi pembangunan infrastruktur di tingkat kelurahan yang berkisar sekitar Rp200 juta per tahun, yang dinilai dapat diarahkan untuk membantu perbaikan akses jalan menuju persawahan Urumitem.
Bupati Kanis juga menyampaikan bahwa kebutuhan listrik di kawasan persawahan sebenarnya dapat direalisasikan apabila kelompok petani mengajukan proposal resmi kepada pihak PLN.
Untuk kebutuhan alat dan mesin pertanian (alsintan), pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian disebut memiliki fasilitas bengkel yang dapat dimanfaatkan untuk perbaikan peralatan petani
Ia juga menyinggung masih luasnya lahan tidur di sembilan kecamatan di Kabupaten Lembata yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian produktif. Namun keterbatasan alat berat masih menjadi kendala utama dalam upaya ekspansi lahan tersebut.
Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, potensi produksi pertanian di kawasan Waikomo sebenarnya cukup besar. Bantuan pemerintah seperti pembangunan irigasi tambahan telah membantu meningkatkan produktivitas sawah.
Namun tanpa dukungan infrastruktur dasar seperti akses jalan, listrik, dan fasilitas pendukung bagi petani, potensi tersebut dikhawatirkan tidak akan berkembang secara maksimal.
Jika kondisi ini tidak segera ditangani, dampaknya bukan hanya dirasakan para petani, tetapi juga dapat memengaruhi ketahanan pangan lokal serta keberlanjutan program pembangunan sektor pertanian di Kabupaten Lembata.
Pewarta: Flony Making
Editor: redaksi
