Dari Rumah ke Rumah, dari Gereja ke Bumi: Pesan Pastoral Uskup Hans Monteiro yang Menohok

 

LEWOLEBA, Wartapers.com - Pesan pastoral perdana Uskup Yohanes Hans Monteiro di Kabupaten Lembata tidak berhenti pada seruan spiritual semata.

Dalam kunjungan pertamanya sejak ditahbiskan sebagai Uskup Keuskupan Larantuka pada 11 Februari 2026, ia menegaskan bahwa Gereja harus hadir bukan hanya di altar, tetapi juga dalam pergulatan sosial masyarakat, dari persoalan kemiskinan hingga kerusakan lingkungan.

Pesan itu disampaikan saat ia menghadiri penutupan Pertemuan Tahunan Legio Maria tingkat komisium dekenat di Aula Paroki Kristus Raja Wangatoa, Minggu, 15 Maret 2026.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq, Deken Lembata Philipus Sinyo da Gomez, serta para pastor dan anggota Legio Maria dari berbagai paroki. 

Di hadapan para legioner, Uskup Hans menyebut Legio Maria sebagai 'Gereja yang berjalan dari rumah ke rumah', sebuah model kerasulan awam yang menjangkau umat secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Namun menurutnya, karya kerasulan itu tidak boleh berhenti pada kegiatan doa dan kunjungan keluarga semata. Ia mengingatkan bahwa Gereja saat ini berada di tengah berbagai realitas yang kerap terabaikan, keluarga yang rapuh, kaum muda yang kehilangan arah, hingga bumi yang semakin terluka.

Karena itu, umat dipanggil untuk bergerak dari ruang ibadah menuju keterlibatan nyata dalam kehidupan sosial.

Dalam pesannya, Uskup Hans menekankan tiga arah pastoral bagi Legio Maria: memperkuat spiritualitas Gereja, menjalankan misi kerasulan dari rumah ke rumah, serta membangun keterlibatan sosial yang lebih luas. 

Ia menegaskan bahwa doa adalah kekuatan utama Gereja, tetapi doa harus melahirkan tanggung jawab terhadap sesama dan lingkungan.

Isu lingkungan menjadi salah satu sorotan tajam dalam pesannya. Ia mengingatkan umat agar merawat bumi sebagai rumah bersama.

Menurutnya, kerusakan alam tidak hanya menjadi persoalan ekologis, tetapi juga ancaman bagi masa depan generasi di wilayah kepulauan seperti Lembata. 

Karena itu, ia mengajak umat untuk menjaga bumi dengan tanggung jawab demi keberlangsungan hidup anak cucu.

Selain lingkungan, Uskup Hans Monteiro juga menyinggung budaya pesta yang dinilai sering kali berlebihan di wilayah Flores dan Lembata. Ia menilai kebiasaan tersebut perlu ditata agar tidak membebani ekonomi keluarga.

Menanggapi gagasan Bupati Petrus Kanisius Tuaq mengenai penataan kalender pesta hingga akhir Agustus agar masyarakat memiliki waktu menyiapkan musim tanam di September dan Oktober, ia menyebut ide itu layak dikaji lebih dalam karena berkaitan dengan upaya mengatasi kemiskinan.

Ia juga menyoroti dua persoalan lain yang menurutnya mendesak, yakni pendidikan dan migrasi tenaga kerja.

Sekolah-sekolah swasta di Lembata, katanya, masih membutuhkan dukungan pemerintah daerah terutama dalam penyediaan tenaga pendidik dan sarana belajar.

Pendidikan yang berkualitas, menurutnya, menjadi kunci bagi lahirnya generasi masa depan yang mampu bersaing.

Sementara itu, fenomena pekerja migran juga menjadi perhatian serius. Banyak warga merantau tanpa bekal keterampilan memadai sehingga rentan menghadapi berbagai persoalan. 

"Kita harus menyiapkan tenaga kerja yang bermartabat, bukan seperti istilah ‘pergi sunyi pulang bunyi’,” ujar Uskup Hans Monteiro.

Karena itu, ia mendorong adanya sinergi antara Gereja dan pemerintah daerah untuk menyiapkan tenaga kerja yang lebih terampil dan bermartabat.

Pertemuan tahunan Legio Maria tersebut akhirnya ditutup dengan doa pemberkatan oleh Uskup Larantuka setelah sesi dialog bersama para legioner. 

Namun pesan yang ditinggalkan dari kunjungan pastoral itu cukup jelas: Gereja dipanggil untuk bergerak dari rumah ke rumah, dari mimbar Gereja menuju bumi yang sedang menunggu kepedulian umatnya. 


Pewarta: Floni Making

Editor; redaksi 

KABAR NASIONAL
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Memuat BERITA UPDATE TERKINI…

𝐖𝐀𝐑𝐓𝐀 𝐋𝐈𝐏𝐔𝐓𝐀𝐍 𝐏𝐎𝐏𝐔𝐋𝐄𝐑

Memuat...