Dari Mimbar Ramadhan, Wabup Lembata Bicara Iman, Algoritma, dan Pancasila

 

BALAURING, Wartapers.com -  Kehadiran Wakil Bupati Lembata, H. Muhamad Nasir, dalam Safari Ramadan di Masjid Al-Munawarrah, Balauring, pada 27 Februari 2026, tak sekadar seremoni rutin pemerintah daerah. 

Di hadapan jamaah yang memadati masjid, Nasir tampil bukan hanya sebagai pejabat publik, tetapi sebagai penceramah yang membawa refleksi tentang iman, tanggung jawab, dan fondasi kebangsaan. 

Ia melanjutkan agenda safari usai Bupati P. Kanisius Tuaq berpamitan, dengan mengikuti Sholat Isya dan Tarawih berjamaah bersama umat Muslim setempat.

Dalam kultum yang disampaikannya, Wabup Nasir mengajak jamaah menengok kembali cara para pendiri bangsa merumuskan Indonesia. 

Ia menyinggung pemikiran Soekarno yang, menurutnya, dibangun di atas rasionalitas dan sistematika berpikir.

Analogi matematika pun digunakan: pecahan dengan penyebut berbeda tak bisa dijumlahkan tanpa disamakan lebih dulu. 

Bagi Nasir, Indonesia lahir dari beragam 'pecahan' agama, suku, kepentingan, dan pandangan politik, yang hanya dapat disatukan melalui satu penyebut bersama, yakni Pancasila.

Tak berhenti di sana, Wabup Nasir membawa jamaah pada refleksi tentang kontribusi peradaban Islam terhadap dunia modern. 

Ia menyebut Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi sebagai tokoh yang meletakkan dasar konsep algoritma, fondasi sistem digital hari ini. 

Pesan yang hendak ditegaskan: kemajuan lahir dari keteraturan berpikir dan kedewasaan sikap, bukan dari emosi yang lepas kendali. 

Di tengah tantangan sosial dan derasnya arus informasi, ia mengingatkan pentingnya rasionalitas dalam beragama dan berbangsa.

Dalam konteks Ramadan, Wabup Nasir menekankan bahwa iman bukan sekadar pengakuan lisan. Iman, katanya, harus melahirkan kesadaran, syukur, dan tanggung jawab, baik dalam relasi dengan Tuhan maupun dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. 

Ia mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan orang tua, memelihara silaturahmi, serta memegang amanah dalam rumah tangga. 

Kepemimpinan, termasuk di lingkup keluarga, adalah tanggung jawab moral yang kelak dipertanyakan.

Menutup kultumnya, Wabup Nasir mengingatkan bahwa yang paling mahal dalam hidup bukanlah jabatan atau harta, melainkan hidayah. 

Ia mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum koreksi diri, waspada terhadap godaan yang kerap datang secara halus melalui ambisi dan kesibukan duniawi. 

Safari Ramadan di Balauring malam itu pun berlangsung khidmat, menjadi panggung refleksi tentang iman sekaligus cermin upaya merawat persatuan di Kabupaten Lembata.

Pewarta: Sabatani

Editor: redaksi 

KABAR NASIONAL
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Memuat BERITA UPDATE TERKINI…

𝐖𝐀𝐑𝐓𝐀 𝐋𝐈𝐏𝐔𝐓𝐀𝐍 𝐏𝐎𝐏𝐔𝐋𝐄𝐑

Memuat...