Pemuda Bangkalan Diintimidasi Oleh TNI Babinsa Saat Soroti KDMP Rp1,09 Miliar

Bangkalan || Wartapers.com - Siang, beberapa anggota aktivis antikorupsi melangkah masuk ke lokasi proyek pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Tegar Priyah, Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan. 

Tak ada teriakan, tak ada keributan. Kedatangan mereka sederhana: menindaklanjuti aduan warga.

Namun, suasana tenang itu tak bertahan lama. Beberapa menit setelah berada di area proyek KDMP, seorang pria berseragam loreng mendekat. 

Tubuhnya besar, suaranya keras. Ia adalah Babinsa yang ditugaskan mengawasi pembangunan KDMP. Alih-alih menyambut atau menanyakan maksud kedatangan, malah justru sebaliknya.

Bentakan pertama memecah suasana, Nada tinggi, tatapan tajam, dan kalimat bernuansa ancaman membuat lokasi proyek mendadak mencekam. Aktivis yang datang untuk melakukan klarifikasi justru diperlakukan layaknya ancaman.

Kedatangan aktivis bukan tanpa alasan. Sehari sebelumnya, warga Desa Tegar Priyah melaporkan dugaan kejanggalan dalam pembangunan KDMP. Bangunan koperasi yang seharusnya menjadi simbol pemberdayaan ekonomi desa itu justru dinilai dikerjakan asal-asalan.

“Ada yang tidak beres. Materialnya terlihat murahan, pengerjaannya tergesa-gesa. Warga curiga ini tidak sesuai dengan RAB,” ungkap Nasirudin, aktivis Bangkalan yang ikut ke lokasi pada wartawan. Selasa (3/2/2026)

Bagi para aktivis, langkah turun ke lapangan adalah bagian dari kontrol sosial. Namun di lokasi proyek, ruang dialog seolah tertutup rapat.

Menurut keterangan Nasiruddin, oknum Babinsa itu tak hanya melarang pengambilan gambar atau wawancara. Ia melontarkan kalimat yang membuat bulu kuduk merinding.

"Siapa kamu? Jangan main-main. Saya sudah tahu siapa orangnya yang mengadu ke kamu. Nanti saya culik dia,” jelas Nasiruddin menirukan ucapan Babinsa yang diucapkan di hadapan beberapa orang.

Bagi warga sekitar, momen itu menjadi titik balik. Beberapa memilih menjauh. Yang lain hanya terdiam, takut ikut terseret. 

“Setelah kejadian itu, warga jadi takut bicara. Mereka khawatir kalau ketahuan mengadu, akan ada masalah,” kata seorang warga setempat. 

Babinsa sejatinya adalah ujung tombak TNI di Desa. Tugasnya membina, menjaga stabilitas, dan membangun komunikasi sosial. Dalam banyak kasus, Babinsa dikenal dekat dengan masyarakat.

Namun peristiwa di Tegar Priyah menunjukkan wajah lain: aparat yang dituding justru menjadi tembok penghalang antara warga dan haknya untuk bersuara.

“Ini bukan sekadar soal diusir. Ini soal intimidasi. Soal ancaman. Dan itu serius. Kalau proyek ini bersih, kenapa harus takut diklarifikasi?” ujar Nasiruddin. 

Seorang anggota Koramil Gegger, Bangkalan, Serma Supardianto menyampaikan bahwa dirinya belum banyak mendalami persoalan terkait proyek KDMP. Ia mengaku tidak memiliki informasi yang cukup untuk memberikan keterangan lebih jauh mengenai hal tersebut.

"Apabila terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi terkait kegiatan di lapangan, komunikasi dapat dilakukan melalui Pasi Intel Kodim setempat agar penjelasan dapat diperoleh secara lebih komprehensif," singkatnya. 

Sementara itu, Abdurahman Tohir, pemerhati kebijakan publik dari Pusat Analisa Kajian Informasi Strategis (PAKIS), menilai jika benar terjadi intimidasi terhadap aktivis yang mempertanyakan proyek KDMP, itu menandakan ada masalah serius dalam tata kelola pembangunan desa. 

"Proyek yang dibiayai anggaran Negara seharusnya terbuka terhadap kritik dan klarifikasi, bukan justru dilindungi dengan cara-cara represif," paparnya. Rabu (4/2/2026). 

Ketika aparat masuk terlalu jauh ke wilayah sipil, apalagi dengan nada ancaman, itu berpotensi melanggar prinsip netralitas dan profesionalitas aparat negara.

“Dengan nilai anggaran lebih dari Rp1 miliar, transparansi bukan pilihan, melainkan kewajiban. Sikap defensif di lapangan justru memperkuat dugaan adanya ketidaksesuaian antara perencanaan dan realisasi proyek," ungkapnya. 

Berdasarkan selebaran Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang beredar di masyarakat, pembangunan KDMP di dikerjakan oleh PT Agrinas Pangan Nusantara dengan nilai Rp1.099.615.763.

Anggaran tersebut mencakup pekerjaan struktur, arsitektur, mekanikal, dan elektrikal. Pada pekerjaan struktur, dana terbesar digunakan untuk pekerjaan bawah atau pondasi sekitar Rp192 juta, disusul pekerjaan bangunan Rp137 juta, serta rangka atap sekitar Rp11 juta.

Sementara itu, pada pekerjaan arsitektur, anggaran paling besar terserap untuk penutup atap yang mencapai sekitar Rp204 juta. Selain itu, pekerjaan pasangan dialokasikan sekitar Rp141 juta, pekerjaan fasad Rp97 juta, serta pekerjaan kusen Rp81 juta. 

Adapun penutup lantai dan dinding menelan anggaran sekitar Rp54 juta, pekerjaan infrastruktur Rp57 juta, finishing cat Rp28 juta, penutup langit-langit Rp16 juta, dan pekerjaan sanitair sekitar Rp4 juta.

Pada pekerjaan mekanikal, anggaran digunakan untuk instalasi air bersih sekitar Rp7 juta, instalasi air kotor dan air bekas Rp12 juta, serta instalasi pipa pembuangan air hujan sekitar Rp12 juta.

Sedangkan pada pekerjaan elektrikal, dana dialokasikan untuk distribusi daya listrik sekitar Rp4 juta, instalasi penerangan Rp23 juta, dan proteksi petir sekitar Rp11 juta.


Pewarta; tim 

Editor: redaksi 

KABAR NASIONAL
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Memuat BERITA UPDATE TERKINI…

𝐖𝐀𝐑𝐓𝐀 𝐋𝐈𝐏𝐔𝐓𝐀𝐍 𝐏𝐎𝐏𝐔𝐋𝐄𝐑

Memuat...