Dua Dekade Berkarya, SMPN 7 Maret Luncurkan Buku dan Tegaskan “Panggung Ini Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Laboratorium Karakter”
HADAKEWA, wartapers.com – “Panggung ini bukan sekadar hiburan, melainkan laboratorium karakter.” Ucapan itu bergema penuh makna dari Kepala SMP Negeri 7 Maret Hadakewa, Fransiskus B. Kedang Kaona, di tengah suasana hangat malam pentas seni yang menghadirkan seluruh warga sekolah, orang tua, dan masyarakat Desa Merdeka, Hadakewa, Waienga, Tanatereket, Baopana, serta Desa Lamatuka, Kecamatan Lebatukan.
Cahaya panggung yang temaram menyorot wajah-wajah antusias siswa yang tampil. Alunan musik dan tawa penonton berpadu menciptakan kehangatan yang khas. Di bawah langit Merdeka, panggung itu menjadi saksi semangat pendidikan yang hidup dan berakar di tengah komunitas yang sederhana. Malam itu, Selasa, 4 November, menjadi saksi.
Dalam orasinya, Kepala SMPN 7 Maret menegaskan bahwa pendidikan sejati tidak berhenti di ruang kelas. “Seni mengajarkan harmoni dan disiplin. Setiap nada mengajarkan keseimbangan, setiap gerak tari membentuk ketekunan, dan setiap peran di teater menumbuhkan empati. Inilah pendidikan yang memanusiakan manusia,” ujarnya .
Ia menambahkan, pentas seni bukan hanya sarana hiburan, tetapi wadah pembentukan karakter. “Anak-anak belajar menghargai peran orang lain, memahami kerja sama, dan menumbuhkan rasa percaya diri. Kehidupan, seperti panggung ini, hanya indah bila kita mampu bergerak bersama dalam irama yang selaras,” katanya.
Ketua Komite SMPN 7 Maret Hadakewa, Atanasius Samun, saat memberikan sambutan mengajak seluruh hadirin untuk menundukkan kepala, mengenang para guru dan tokoh masyarakat yang telah berjuang mendirikan sekolah tersebut dua puluh tahun silam. “Mari kita hening sejenak untuk mereka yang telah mendahului kita — para pejuang pendidikan di Desa Merdeka yang dulu memperjuangkan berdirinya sekolah ini. Tanpa mereka, kita tidak akan bisa menikmati hasil perjuangan ini hari ini,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam memajukan lembaga pendidikan. “Sekolah ini tumbuh karena gotong royong dan cinta. Kami para orang tua tidak hanya menyerahkan anak-anak kepada guru, tetapi juga ikut menjaga dan membesarkan sekolah ini dengan semangat kebersamaan,” tambahnya.
Atanasius juga menyoroti semangat mandiri para siswa SMPN 7 Maret yang dikenal sebagai sekolah yang “sambil belajar, sambil bekerja”. “Segala fasilitas yang Bapak Mama lihat di depan ini dibangun dari hasil kerja keras anak-anak. Mereka berjualan es, membuat kerajinan, dan menggalang dana sendiri. Mereka belajar arti kerja keras dan tanggung jawab sejak dini,” ujarnya bangga.
SMP Negeri 7 Maret Hadakewa kini genap berusia 20 tahun. Menurut Ketua Komite, usia itu menandai kedewasaan dan kematangan sebuah lembaga pendidikan. “Dua puluh tahun bukan sekadar angka. Ini adalah perjalanan panjang yang penuh dedikasi, air mata, dan cinta,” ucapnya.
Ia juga mengapresiasi para alumni yang kini berkiprah di berbagai bidang dari imam, biarawati, pegawai negeri, petani, hingga pendidik yang kembali mengabdi di sekolah tersebut. “Itulah bukti cinta sejati pada lembaga ini. Mereka kembali bukan karena diminta, tapi karena panggilan hati,” katanya.
Pentas seni malam itu juga dihadiri oleh perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata Yohanes Berchmans Gati, pengawas Dikdes Disdik Lembata yang memberikan apresiasi tinggi terhadap sekolah ini. “Kami mencatat SMPN 7 Maret Hadakewa sebagai salah satu sekolah favorit di Lembata. Kepala sekolahnya kini tengah mengikuti nominasi Apresiasi GTK 2025 dan dikenal sebagai pengajar praktis guru penggerak. Itu pencapaian yang patut dibanggakan,” ujar perwakilan dinas dalam sambutannya.
Ia juga menyampaikan bahwa sekolah ini telah menjadi contoh dalam banyak aspek. “SMPN 7 Maret merupakan calon sekolah Adiwiyata yang peduli lingkungan, komunitasnya aktif, dan pembelajarannya sudah terintegrasi dengan digitalisasi. Ini luar biasa untuk sekolah di wilayah kecamatan,” tambahnya.
Menurutnya, kegiatan seperti pentas seni sangat relevan di tengah derasnya arus digitalisasi. “Anak-anak kita kini hidup di era serba cepat. Melalui seni, mereka belajar tentang empati, kesabaran, dan kebersamaan. Pendidikan bukan hanya dari buku, tetapi dari pengalaman dan perasaan,” ujarnya.
Malam itu juga menjadi istimewa dengan peluncuran buku antologi cerpen berjudul “Jejak Langkah SMPN 7 Maret Hadakewa”, karya kolaborasi antara guru dan siswa. Buku ini menjadi karya ketujuh yang dihasilkan sekolah tersebut dalam tujuh tahun terakhir, menandakan tradisi literasi yang kuat.
“Setiap tahun kami lahirkan karya baru. Literasi telah menjadi bagian dari budaya sekolah ini. Kami ingin anak-anak tidak hanya membaca, tetapi juga menulis, berimajinasi, dan memberi makna,” kata Kepala Sekolah dalam sambutan penutupnya.
Ia kemudian mengajak seluruh warga sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk terus memperkuat sinergi pendidikan. “Mari kita bangun ruang-ruang belajar yang merdeka dan menyenangkan. Kita beri akar agar anak-anak kokoh berdiri, dan sayap agar mereka mampu terbang tinggi,” tuturnya menutup malam penuh makna itu.(Adv)
Pewarta: Sabatani
Editor: redaksi
