gambar

SEDA EPA HELU ULI: Jontona Tegakkan Martabat Lewo Lewat Panggung Seni Adat

 


Lembata, wartapers.com — Pentas seni budaya antar-dusun di Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, NTT, menghidupkan kembali kisah-kisah adat yang nyaris terlupakan, membuktikan bahwa adat hidup sepanjang zaman, tradisi tetap relevan di tengah gempuran budaya luar.

Malam itu, Desa Jontona tidak sekadar merayakan HUT ke-80 Republik Indonesia. Di panggung terbuka yang sederhana namun penuh wibawa, cahaya lampu memantulkan kilau kain adat dan perhiasan gading, kenobo tena, belaong, sope dan nile tanah. Sorak-sorai penonton bercampur syair adat menggema. Tema “SEDA EPA HELU ULI” menjadi ruh Pentas Seni antar-dusun yang digelar pada Senin (11/8/2025).

Gelaran ini bukanlah drama ecek-ecek. Setiap gestur, intonasi, dan simbol yang diperlihatkan sarat makna. Salah satu lakon adat mengisahkan kemarahan Kopong Koli Wuan sang kepala suku yang menggebrak meja karena anak gadisnya, Bulu Biko Bako, dihamili Ola Laba Take. Konflik adat itu melibatkan Lyon Lawi Ata Tana Tawa Ekan Geri sebagai Amakaka pihak laki-laki, memicu tuntutan perubahan karena bala gading atau mahar yang dibawa hanyalah dua kain sarung padahal nemi me kiri pematinge, mio mari mio uhur tobi taa, ramuye bunga lawange me model mio mi. Pana. Diri pana. Mai leka bala telho tou, gading ukuran tiga kain sarung (bala telhon tou) meti lohe.


Kisah itu tidak berhenti pada amarah. Dengan kearifan adat, para tetua menengahi perselisihan dengan soba peroho perawi ame, karena tite ata ama ana, peti bola liri kenata. Mahar dilengkapi, martabat keluarga dipulihkan, dan ujungnya kedua anak muda itu dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Sebuah pelajaran bahwa adat selalu punya jalan damai untuk menyelesaikan konflik.

Penampilan lain datang dari kelompok Dusun I Riang Papa, dipimpin juru bicara Hans Making Kayo Wuan. Dengan bahasa adat yang tegas dan penuh wibawa, ia menghardik Ana Opo dalam kisah yang sarat pesan moral, nemi teka te mio me ata tana di mio guha geenge. Meski awalnya panas, Hans praktis membalikkan meja adat, tetapi Amakaka Ana Opo, Sili Sua Sala memberikan keyakinan bahwa rua ata ama ana ko tobk to koda, lakon itu berakhir dengan rekonsiliasi, menunjukkan bahwa adat tidak hanya mengatur hubungan keluarga, tetapi juga menjaga keharmonisan lewo (kampung).

Ketua Panitia, Chriztyan Making, dalam laporannya menegaskan pentingnya acara ini di tengah arus budaya Barat yang kian kuat. “Sebagai desa budaya, desa tradisi, dan desa adat, Jontona harus memulai kembali kebangkitan tradisi leluhur yang nyaris tergusur. Mungkin belum sempurna, tapi untuk hal baik demi tradisi, kita harus mulai sekarang,” ujarnya.

Perlombaan ini diikuti oleh perwakilan setiap dusun, dengan empat cabang utama: Kuis Adat, peragaan busana tradisional, paduan suara, dan koda kiri mari lara kiri pematinge. Kuis Adat menjadi favorit, menguji pengetahuan peserta mulai dari jenis perahu Lewohala hingga sarung adat untuk Pohi Bala.

Peragaan busana tradisional pun mencuri perhatian. Lelaki dan perempuan tampil anggun dengan wate mea (sarung adat), senawe, kala bala (gelang gading), parang, dan ikat kepala khas Lewo. Termasuk juga paduan suara “Tanah Lembata Heleroo” dengan harmoni yang menggetarkan hati penonton juga menghiasi panggung pentas seni yang diperlombakan.

Kepala Desa Jontona, Nikolaus Ake, dalam sambutannya menegaskan bahwa peringatan kemerdekaan bukan hanya untuk mengenang pahlawan, tetapi juga menjaga warisan budaya. “Ini cara kita menghargai leluhur yang membangun kampung tua ini. Tradisi adalah bagian dari kemerdekaan kita,” katanya.

Nikolaus mengapresiasi kerja keras panitia dan masyarakat yang mempersiapkan acara dengan penuh dedikasi. Ia berharap peserta terbaik akan mewakili Jontona di Festival Budaya tingkat kabupaten. “Siapa yang mantap di sini, kita bawa ke level lebih tinggi,” tambahnya.

Alo Walang, salah satu warga Jontona, mengatakan lomba ini bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang belajar bersama. Anak-anak SD, remaja SMP, hingga pemuda SMA terlibat aktif, baik sebagai peserta maupun penonton, menyerap nilai-nilai adat dari setiap penampilan.

Malam itu, panggung seni di Jontona menjadi ruang perjumpaan lintas generasi. Nilai-nilai adat disampaikan bukan melalui ceramah, tetapi lewat drama, musik, busana, dan syair, sehingga mudah diingat dan dihayati oleh anak muda.

Dengan gelaran ini, Desa Jontona membuktikan bahwa tradisi bukanlah warisan mati. Ia hidup, tumbuh, dan beradaptasi dengan zaman—tanpa kehilangan martabatnya.


Pewarta: Sabatani

Editor: redaksi 

KABAR NASIONAL
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Memuat BERITA UPDATE TERKINI…

𝐖𝐀𝐑𝐓𝐀 𝐋𝐈𝐏𝐔𝐓𝐀𝐍 𝐏𝐎𝐏𝐔𝐋𝐄𝐑

Memuat...