Ramsia Nahkodai IBI Lembata, Suara Baru dari Garda Terdepan Kesehatan Perempuan

 


Lembata- wartapers.com -  Ramsia Gelu, S.Tr.Keb., M.Keb. resmi memimpin Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Lembata untuk periode 2023–2028. Ia terpilih dalam Musyawarah Cabang (Muscab) III IBI Lembata yang berlangsung 5–6 Agustus 2025 di Olympic Ballroom, Lewoleba, melalui pemungutan suara demokratis.

Dari total 91 suara sah, Ramsia meraih 49 suara, menyingkirkan petahana Rosadalima Tuto, S.ST yang mengantongi 36 suara. Tiga kandidat lainnya, yakni Maria Lakok Barek, Kristoforus Salomi, dan Veronika Desiana Lamakey masing-masing hanya mengumpulkan suara satuan.

Terpilihnya Ramsia membawa angin segar sekaligus tantangan baru dalam kepemimpinan organisasi profesi yang telah berusia 74 tahun itu. Dalam pidato perdananya sebagai ketua terpilih, Ramsia menyentil pentingnya solidaritas profesi di tengah krisis etika dan derasnya arus ketidakpastian. Ia mengajak seluruh bidan Lembata untuk memperkuat komitmen pelayanan, menjunjung etika profesi, dan bersinergi dalam mendukung sistem kesehatan nasional.

Muscab III IBI Lembata bukan hanya panggung transisi kepemimpinan, tapi juga momentum refleksi organisasi. Tema yang diusung, “Peran Bidan dalam Penguatan Sistem Ketahanan Nasional pada Semua Krisis melalui Sinergi dan Kolaborasi”, menggarisbawahi posisi strategis bidan sebagai pengawal utama agenda kesehatan perempuan dan anak.

Rosadalima Tuto, yang menakhodai IBI Lembata selama lima tahun terakhir, menyampaikan pidato penuh makna dalam penutupan Muscab. Ia menyebut bidan sebagai garda terdepan yang tak tergantikan, bahkan di tengah gelombang pandemi dan krisis multidimensi.

“Profesi bidan telah terbukti menjadi pilar utama dalam menjaga hak-hak kesehatan perempuan, terlebih di wilayah 3T. Kita tidak hanya hadir memberi pelayanan, tapi juga menjadi wajah negara di mata masyarakat,” ujar Rosadalima.

Ia tak lupa mengingatkan pemerintah daerah agar lebih peduli terhadap kesejahteraan tenaga kesehatan. Keputusan Bupati Lembata Nomor 183 Tahun 2025 tentang Standar Honorarium Sumber Umum (SHSU), menurutnya, justru meruntuhkan semangat pengabdian. “Kami seperti tidak ada artinya,” keluhnya, disambut riuh tepuk tangan 447 bidan peserta Muscab.

Pernyataan Rosadalima diamini banyak pihak. Dukungan terhadap penguatan profesi bidan juga bergema dari level nasional. Anggota Komisi VI DPR RI Rieke Diah Pitaloka bahkan menjuluki bidan sebagai “prajurit NKRI dengan patriotisme tinggi” dan mendesak jaminan perlindungan hukum serta peningkatan kesejahteraan mereka. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Putih Sari menegaskan bahwa DPR tengah bekerja sama dengan Kementerian PUPR untuk menyediakan rumah dinas bagi para bidan di daerah-daerah terpencil

Sementara Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dalam sambutannya menekankan, peran bidan berada di jantung transformasi sistem kesehatan nasional. “IBI dan para bidan adalah kekuatan utama dalam agenda Indonesia Sehat,” tegasnya.

Dalam paparan tugas dan wewenang, bidan disebut sebagai pelayan kesehatan ibu dan anak, pelaksana KB, hingga agen perubahan di masyarakat. Mereka hadir di puskesmas, poskesdes, tempat praktik mandiri, bahkan rumah-rumah warga. Melalui pendekatan midwifery respectful care, bidan bukan sekadar tenaga kesehatan, tetapi mitra perempuan dalam seluruh siklus kehidupan reproduksinya.

Kemenangan Ramsia bukan semata pergantian pucuk pimpinan. Ia menjadi simbol generasi baru dalam tubuh organisasi yang sarat sejarah ini. Dalam lima tahun ke depan, tantangan IBI Lembata tak hanya pada ranah internal, tetapi juga bagaimana menghadirkan bidan sebagai aktor utama dalam pencapaian target-target pembangunan kesehatan nasional di wilayah kepulauan seperti Lembata.

“Perjalanan kita masih panjang. Tapi bersama, kita bisa menempuhnya lebih kuat,” kata Ramsia menutup sambutannya.


Pewarta: sabatani

Editor: redaksi 

KABAR NASIONAL
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image