"Dari Bangku Unpad ke Pelosok Lembata: Jejak Panjang Pengabdian Ketua IBI Lembata Ramsia Gelu"

Lembata, wartapers.com – Rupamu berkabar angin. Pada ruas serambi rumahmu, ribuan asa melantun merdu.Para pejuang kemanusiaan sedang berdiskusi tentang siapa yang akan terus menjaga nyala api pengabdian.

Di tengah riuh itu, Ramsia Gelu berjalan pelan namun pasti, mengikuti panggilan jiwa. Sosok perempuan kelahiran Lewotolok, 31 Desember 1977, ini tak pernah sekadar bekerja untuk memenuhi tugas, tetapi menghayati setiap langkahnya sebagai bagian dari misi kemanusiaan.

Bagi rekan sejawatnya di dunia kesehatan, Ramsia adalah pribadi yang komunikatif, dinamis, rendah hati, namun tegas dalam prinsip. Kompas hidupnya berpijak pada kode etik kebidanan, regulasi kesehatan, dan nurani. Pola kerjanya akomodatif, solutif, akuntabel, serta transparan.

Tak heran, namanya dihormati sebagai bidan yang mampu menghadirkan kesejukan dan solusi di tengah tantangan. Ia dikenal “sowan”—sopan, berkarakter, dan terus belajar secara otodidak untuk meningkatkan keterampilan. Sosok yang tidak hanya menangani persalinan, tapi juga memeluk erat harapan setiap ibu, bayi, dan keluarga yang ia layani.

Perjalanan panjangnya dimulai dari bangku pendidikan. Lulus dari SPK Ende Kelas Paralel Maumere pada 1997, ia melanjutkan Diploma I Kebidanan di P2BA Ende setahun kemudian. Tahun 2009 ia meraih DIII Kebidanan di Universitas Indonesia Timur, Makassar. Kehausan akan ilmu membawanya ke Surabaya untuk menempuh DIV Kebidanan di STIKES Insan Unggul (2017), hingga puncaknya menyelesaikan Magister Kebidanan di Universitas Padjadjaran, Bandung, pada 2023—semuanya ia tempuh dengan biaya sendiri, tanpa beban pada orang lain, sebagai wujud kemandirian dan tekad yang kuat.

Di setiap tahap pendidikan, ada kekuatan besar yang menopangnya: keikhlasan dukungan dari keluarga. Suaminya, Ibrahim Kader Paokuma, menjadi sandaran setia yang memahami sepenuhnya bahwa studi dan karya pengabdian istrinya adalah bagian dari ibadah. Anak-anak mereka pun memberi semangat—Fatih Paokuma, sang putri, dan Fachry Paokuma, putra mereka—yang dengan lapang hati merelakan waktu bersama demi cita-cita ibunya untuk membawa perubahan bagi kesehatan masyarakat Lembata.

Di Unpad, Ramsia tak hanya belajar teori. Ia menimba inspirasi dari dosen dan rekan mahasiswa tentang pentingnya riset, inovasi, dan keberpihakan pada kelompok rentan. Janji dalam hatinya sederhana namun kuat: kelak pulang ke Lembata, ia akan mendedikasikan hidupnya bagi kesehatan ibu dan anak.

Janji itu menjadi nyata ketika ia kembali ke tanah kelahiran. Dari bidan PTT di Desa Kolipadan (1998–2001), bidan pelaksana di Loang dan Lewotolok, hingga bidan koordinator di Puskesmas Waipukang, ia menjalani semua peran dengan penuh kesungguhan. Sejak 2019, ia dipercaya sebagai penanggung jawab program kesehatan ibu di puskesmas yang sama.

Pengabdiannya tak berhenti di ruang klinis. Ramsia adalah penggerak organisasi. Di Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Lembata, ia pernah menjadi Ketua Fundraising (2013–2018) dan kini menjabat Wakil Ketua I. Ia juga mendirikan Forum Peduli Kesejahteraan Difabel dan Keluarga (FPKDK) Lembata pada 2018, yang memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas.

Ramsia Gelu, S.Tr.Keb., M.Keb., resmi memimpin Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Lembata untuk periode 2023–2028. Ia terpilih dalam Musyawarah Cabang (Muscab) III IBI Lembata yang berlangsung 5–6 Agustus 2025 di Olympic Ballroom, Lewoleba, melalui pemungutan suara demokratis. Dari total 91 suara sah, Ramsia meraih 49 suara. Setelah hampir puluhan tahun ia menggambar masa depannya, Ramsia meraih ujung dari satu rencananya menjadi Ketua Ikatan Bidan Lembata.

Prestasinya pun terukir di tingkat provinsi. Tahun 2014, ia dinobatkan sebagai Tenaga Kesehatan Teladan NTT. Ia aktif di PMI, KONI, Forum PRB, Forum PUSPA, hingga organisasi Generasi Digital Indonesia. Semua ini dijalaninya bukan untuk gelar, tapi untuk memberi manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat.

Pelatihan demi pelatihan ia ikuti: mulai dari asuhan persalinan normal, penatalaksanaan malaria dalam kehamilan, konseling laktasi, vaksinasi COVID-19, hingga TOT fasilitator parenting. Keahliannya diperkuat dengan pelatihan manajerial dan advokasi, menjadikannya pemimpin yang mumpuni di lapangan.

Ramsia percaya, pelayanan kesehatan harus menyentuh hati. “Menjadi bidan bukan sekadar pekerjaan, tapi jalan pengorbanan,” ujarnya suatu kali. Baginya, setiap ibu yang melahirkan, setiap bayi yang menangis untuk pertama kali, adalah bagian dari sejarah kemanusiaan yang harus dijaga dengan kasih.

Meski namanya telah melambung, ia tetap merendah. Di tengah kesibukan, ia kerap mengajak rekan tenaga kesehatan untuk merefleksikan arti pengabdian. “Kita harus melayani dengan makna, bukan sekadar menjalankan rutinitas,” katanya.

Kini, di usia matang, Ramsia tak berhenti bermimpi. Ia ingin membangun pusat layanan kesehatan ibu dan anak berbasis komunitas di Lembata, mengintegrasikan pendekatan medis dengan edukasi masyarakat. Baginya, masa depan kesehatan daerah bergantung pada keberanian mengambil langkah inovatif.

Jejaknya dari kampus Universitas Padjadjaran hingga pelosok desa di Lembata adalah kisah tentang kesetiaan pada janji. Ia menapaki jalan panjang dengan sabar, melewati tantangan, dan tetap memelihara harapan. Sebab bagi Ramsia Gelu, pengabdian adalah napas kehidupan.


Pewarta: sabatani

Editor: redaksi 

KABAR NASIONAL
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Memuat BERITA UPDATE TERKINI…

𝐖𝐀𝐑𝐓𝐀 𝐋𝐈𝐏𝐔𝐓𝐀𝐍 𝐏𝐎𝐏𝐔𝐋𝐄𝐑

Memuat...