AMPERA Flores Desak Evaluasi Proyek Geothermal
Jakarta, wartapers.com - Sejumlah aktivis dari organisasi Amanat Perjuangan Rakyat Flores (AMPERA) mendatangi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta untuk menyampaikan aspirasi dan mengawal perkembangan eksplorasi energi baru terbarukan berbasis panas bumi (geothermal) di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Jumlah peserta aksi massa yang berorasi ratusan puluhan peserta massa dari kalangan masyarakat NTT Flores dengan dipimpin oleh Bapak Marlin Bato sebagai kordinator aksi orasi demo di lokasi kantor gedung ESDM jakarta pusat Medan merdeka Selatan No.18 pada hari Jumat pada tanggal 8/8/2025.
Pulau Flores sendiri telah ditetapkan sebagai Geothermal Island oleh Kementerian ESDM sejak 2017, dengan 27 titik potensi panas bumi. Namun, hingga kini proyek tersebut masih menuai pro dan kontra di tengah masyarakat(8/8/2025).
Aksi orasi Demo kalangan masyarakat NTT Flores di kawal oleh aparat kepolisian dari sektor polres Jakarta pusat dan sektor Polsek Gambir dengan kondisi aman,kondusif ,dan lancar di sorotan liputan awak media online dan media surat kabar berada di lokasi gedung ESDM Medan merdeka Selatan.
Beberapa perwakilan dari Ampera diterima audiensi dengan pihak Kementerian ESDM. Usai Mance Kota dalam Orasinya mengatakan.
Dalam pernyataannya, AMPERA menilai bahwa hasil eksplorasi geothermal belum sepenuhnya transparan dan belum dirasakan manfaatnya oleh masyarakat lokal.
Menurut Sorotan Awak media " bahwa keberadaan Bapak Bahlil Tidak ada ditempat dan berdasarkan info keterangan jajaran staff yang indentitas tidak mau dipublikasikan oleh awak media bahwa beliau berada di luar daerah, saat perayaan giat HUT Ke 75 tahun bersama acara hiburan HUT RI Bapak Mentri ESDM yaitu Bapak Bahlil digelar dilokasi aula gedung ESDM tersebut dihadiri kalangan jajaran pimpinan staff ESDM RI tersebut cukup meriah.
Mereka mendesak pemerintah untuk meninjau ulang seluruh klausul kontrak proyek demi memastikan keadilan ekonomi bagi rakyat Flores.
Berikut beberapa poin tuntutan AMPERA:
Klausul Kontrak Proyek Geothermal Dikaji Ulang, agar berpihak pada keadilan ekonomi masyarakat.
• Mendukung Kemandirian Energi, sebagai solusi atas kemiskinan dan pemadaman listrik yang masih sering terjadi.
• Transparansi Bagi Hasil dan Dana CSR, termasuk pembagian untuk pemerintah daerah, provinsi, dan masyarakat.
• Listrik Gratis untuk Warga Miskin di sekitar lokasi proyek geothermal.
• Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal dalam operasional proyek.
• Seruan Dialog Bersama antara pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat untuk meredam konflik sosial.
Tidak ada respon dari pihak perwakilan jajaran staff ESDM dilokasi demo saat aksi orasi berlangsung dengan kondisi cukup padat arus lalu lintas merayap.
• Hentikan Provokasi yang memperkeruh hubungan antara masyarakat dan pemerintah.
Kementerian ESDM menyambut baik aspirasi yang disampaikan dan berkomitmen menjadikannya bahan evaluasi.
“Kami mendukung kemandirian energi untuk keadilan ekonomi masyarakat Flores.
Sudah 60 tahun Flores masuk tiga besar provinsi termiskin. Ini harus segera diubah,” ungkap perwakilan Kementerian.
Menurut AMPERA, pemanfaatan panas bumi sebagai sumber energi terbarukan adalah peluang besar bagi Flores untuk keluar dari kemiskinan.
Selain lebih murah dan ramah lingkungan dibanding energi fosil, geothermal dapat mendukung pertumbuhan industri dan UMKM yang sangat bergantung pada listrik.
Namun, mereka juga mengingatkan agar proyek geothermal dikelola secara profesional, menghindari kasus masa lalu seperti di Mata Loko yang dinilai penuh masalah.
"Kalau geothermal ini tidak menguntungkan rakyat, maka wajar jika masyarakat menolak,” tegas mereka.
AMPERA menyerukan kepada semua pihak untuk menurunkan ego dan kembali membuka ruang dialog berbasis kajian akademik.
“Jika ada kajian ilmiah bahwa geothermal ini buruk, kita tolak.
Tapi kalau sebaliknya terbukti baik dan ramah lingkungan, mengapa tidak dimanfaatkan?” tambahnya.
Mereka berharap jlg, geothermal menjadi jalan menuju kemandirian energi yang adil dan berkelanjutan bagi rakyat Flores dan NTT secara umum.
Pewarta: Martha Silitonga
Editor; redaksi
