Ironi Pembangunan Los Pasar Wairiang; Biaya 100 Juta Lebih tidak Menunjukkan Kemajuan Signifikan
Ironi Pembangunan Los Pasar Wairiang; Biaya 100 Juta Lebih tidak Menunjukkan Kemajuan Signifikan
LEMBATA, || wartapers.com - Proyek pembangunan Los Pasar Wairiang yang diharapkan dapat menjadi pusat ekonomi baru di Kabupaten Lembata, justru mengalami ironi yang memprihatinkan. Hasil temuan dari Gabungan Komisi III menyebutkan bahwa proyek pembangunan yang dibiayai dari dana APBD 2023 senilai lebih dari 100 juta rupiah, nyaris tidak menunjukkan kemajuan signifikan dan berjalan di tempat. Fenomena ini menyulut berbagai analisis dan keprihatinan masyarakat.
Ketua Tim Gabungan Komisi III, G. Fransiskus Langobelen, mengungkapkan kegelisahannya terkait proyek yang hingga saat ini belum menunjukkan perkembangan yang memadai. Diperkirakan dalam waktu sekitar 5 bulan ke depan, proyek tersebut masih belum akan rampung, mengingat minimnya aktifitas lapangan yang terlihat saat ini. Sementara itu, kalender waktu terus berjalan, dan dengan tersisanya 5 bulan menuju penutupan kalender buku APBD Kabupaten Lembata, kekhawatiran akan penyelesaian proyek ini semakin mengemuka.
"Kami khawatir proyek pembangunan Los Pasar Wairiang tidak akan terselesaikan tepat waktu mengingat minimnya aktifitas lapangan saat ini. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, dan jika hal ini berlanjut, akan berdampak buruk bagi masyarakat dan perekonomian daerah," ungkap G. Fransiskus.
Menurut G. Fransiskus, situasi pasar Wairiang saat ini juga menyajikan tantangan tersendiri. Aktifitas pasar yang berlangsung saat ini memanfaatkan sisi kiri dan kanan jalan raya, bahkan sebagian berada di badan jalan, menyebabkan kemacetan yang signifikan. Tingginya jumlah kendaraan yang masuk dan keluar dari area tersebut membuat perjalanan ke tempat tujuan menjadi terhambat, mengakibatkan padatnya pejalan kaki dan kurangnya ruang gerak yang baik.
"Kami juga melihat ketidakseimbangan antara jumlah pedagang dan pengunjung atau pembeli di pasar ini. Hal ini menyebabkan pasar Wairiang menjadi sangat padat, mirip dengan kondisi pasar Pada di Lewoleba, Kecamatan Nubatukan," tambahnya.
Melihat situasi ini, G. Fransiskus berpendapat bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata perlu mempertimbangkan opsi untuk menjadikan Los Pasar Wairiang secara permanen sebagai solusi alternatif sebagai sarana pendukung pasar. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan bagi pedagang dan juga berkontribusi dalam bentuk retribusi yang dapat memberikan manfaat signifikan bagi daerah.
Gabungan Komisi III pun merekomendasikan agar kontraktor yang bertanggung jawab atas pembangunan Los Pasar Wairiang agar segera menyelesaikan proyek ini demi kepentingan masyarakat banyak. Tindakan cepat dan kerjasama yang baik diharapkan dapat membantu mewujudkan proyek yang bermanfaat bagi perekonomian dan kemajuan daerah Kabupaten Lembata.
Pewarta ; Sultan Sabatani
Editor: redaksi
